Pagi itu aku diberi sebuah bibit bunga yang langka, mereka bilang bibit itu akan menjadi bunga yang sangat indah kelak. Sebenernya aku menolak pemberian mereka, karena aku punya pengalaman yang tidak begitu baik dalam mengurus sebuah tanaman. Tapi mereka meyakinkan aku, jika bibit ini akan menjadi tanaman yang sangat indah dan sangat baik untuk kebunku yang sedang kering dan mereka meyakinkan aku bahwa bibit ini tidak sama dengan tanaman biasanya. Aku pun mulai tertarik, lalu aku tanam bibit itu disebuah pot yang sangat indah, tempat yang indah untuk sesuatu yang indah pikirku. Hari demi hari, aku menyiramnya dengan air yang khusus aku ambil langsung dari gunung, walau aku harus melewati perjalanan yang jauh untuk mengambil air itu tapi ku lakukan dengan hati yang senang. Karena kata mereka bibit itu akan cepat tumbuh jika diberi air pegunungan. Aku juga tidak pernah lupa untuk memberinya pupuk. Aku selalu menanti saat tumbuhnya bibit menjadi bunga yang indah untuk memberikan warna lain di kebunku.
Teman-temanku pun membantuku untuk merawatnya, memberiku angin segar bahwa bibit akan cepat tumbuh, namun bulan demi bulan tak kunjung juga biibt itu berubah menjadi bunga. Aku putus asa, hingga salah satu teman memberitahu aku kalo bunga itu tak akan tumbuh secepat aku fikir, dia bunga yang spesial dan akan tumbuh dalam jangka waktu paling cepat 2 tahun. Kagetnya aku, selama itu kah aku harus menunggu untuk melihatnya mewarnai kebunku. Aku pun mulai bosan untuk memperhatikannya, aku mulai melupakannya namun tak disangka bibit itu sudah menimbulkan tanda-tanda akan tumbuh. Aku mulai bersemangat kembali merawatnya, walau sekarang aku tak bisa seperti dulu, karena aku tau proses tumbuhnya yang memakan waktu lama.
Tak ku sangka bibit itu belum menjadi bunga yang mekar dan indah namun serangga sudah mulai tertarik padanya. Dia sangat menarik banyak lebah untuk mengambil madunya. Hingga aku ingin jauh-jauh karena takut tersengat lebah yang selalu menempel dengannya. Temanku berkata, bunga itu dengan lebah hanya saling membutuhkan untuk proses bunga tumbuh, dan aku tak perlu khawatir oleh lebah atau serangga lainnya. Aku percaya dan mulai mendekati bunga itu lagi, namun kini aku sadari jika bunga itu telah memiliki duri. Duri yang baru kusadari saat aku tertusuk olehnya. Aku mulai ragu untuk memeliharanya, karena duri itu menusukku sangat dalam, air mata pun tak kuasa ku bendung, karena luka yang diberi duri itu sangat menyakitkan. Akhirnya semakin hari bunga itu semakin indah, dan lebah makin berdatangan, dan mereka pun tak pernah tau jika bunga indah itu telah memiliki duri. Karena seharusnya jenis bunga seperti itu tidak mempunyai duri.
Kini aku hanya bisa melihat dia dari kejauhan, aku tak mau tersakiti oleh durinya ataupun berurusan dengan lebah. Walau bunga itu semakin hari semakin menarik, seolah semakin memanggil ku untuk merawatnya. Tapi aku sadari, dia bahagia dengan duri dan lebah yang selalu menemaninya, dan dengan dunianya sendiri. Terimakasih bunga, karena kamu sudah memberi warna di kebunku walau untuk sesaat. Kau mengajariku untuk merawatmu, menunggumu tumbuh dan juga untuk tak memetikmu . Terimakasih lebah karena kamu sudah membantunya untuk tumbuh dan meramaikan harinya, terimakasih duri walau kau menyakitiku dengan keberadaanmu tapi aku sadari betapa senangnya dia memilikimu dan semoga kamu bisa menjaga dia dari tangan orang-orang jahil. Dan sekarang aku menunggu tanaman baru yang bisa ku urus lagi, dan tidak berduri. Berharap hari itu cepat datang, karena aku merasa kebunku kurang berwarna.
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

nietnoet'z mengatakan...
bleeeeeeeeeeh
30 Maret 2009 pukul 23.12